KENIKMATAN SEMU
Ada stigma di masyarakat kalau perokok itu egois. Mereka dianggap golongan orang-orang selfish. Yaitu lebih mementingkan kenikmatan diri sendiri walaupun dengan cara-cara yang bisa membinasakan orang lain, tentu dengan rokoknya. Dan menurut saya pribadi stigma ini atau anggapan ini ada benarnya.
Kamu bisa menyaksikan ketika perokok itu merokok, seolah mereka lupa dengan dirinya, lupa dengan sekelilingnya dan abai terhadap dampak buruk yang ditimbulkan. Para perokok sadar ataupun tidak, mereka memberi subsidi timbulnya penyakin pada orang lain.
Disclaimer, saya tidak merokok tapi berkawan dengan banyak perokok dan baik-baik saja. Yang menjadi sorotan pada tulisan kali ini adalah perilaku perokok yang impulsif.
Tidak jarang kita menemukan orang yang merokok sembarangan. Di manapun keinginan merokok timbul, dengan mudah langsung menyalakan korek. Mau di ruangan tertutup ataupun terbuka tampaknya tidak peduli. Lagi senang atau susah juga tidak masalah. Berkendara juga merokok. Adapula yang beribadah sambil merokok. Unik, namun begitulah kenyataan yang ada.
Rokok itu merusak. Mau disulut dari manapun tetap sama. Mau dinilai dari sudut pandang apapun juga sama. Bahkan dari sudut pandang perokok sekalipun hasilnya sama. Faktanya sudah seperti itu. Kalau soal halal-haram orang bisa berdalil macam-macam. Tapi soal akibat buruk bagi kesehatan sulit dibantah.
Ada ribuan senyawa kimia dan zat beracun yang terkandung dalam rokok. Asapnya saja bisa bertahan di udara hingga berjam-jam. Siapapun yang menghirup udara tercemar itu, maka ia jadi perokok pasif. Dan menurut riset dampaknya bisa lebih tragis dibanding perokok aktif.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa residu zat racun pada rokok bisa menempel di permukaan benda hingga berbulan-bulan. Di rambut, baju, tas, lantai, dinding, kendaraan, dan lainnya. Siapapun yang mengakses benda tersebut akan terkontaminasi. Istilahnya third hand smoke (THS). Dampaknya sama kayak perokok pasif. Jangan heran ada balita meninggal terpapar zat beracun rokok padahal orangtuanya merokok di luar rumah.
Rokok adalah jeda dari dunia yang sibuk. Rokok adalah keheningan dalam keramaian. Rokok adalah teman dalam kesunyian. Rokok adalah petunjuk dalam kebimbangan. Rokok adalah serpihan kenikmatan surga. Rokok adalah kepercayaan diri. Rokok adalah obat yang tidak dijual di apotik. Itulah wisdom para perokok. Mereka menjalani hidup dengan pemahaman tersebut.
Bagi mereka yang tidak merokok, rokok adalah bencana. Aromanya saja sudah menggangu. Apalagi asapnya. Hidup di negeri para perokok, bagai berdiri disamping perapian, asap semua.
Sebenarnya rokok itu boleh atau tidak, sih?
Hukum asal segala sesuatu adalah boleh sampai ada ketentuan yang melarang. Di Indonesia tidak ada ketentuan yang melarang seseorang merokok. Adanya restriction atau pembatasan. Aturan terbaru minimal 21 tahun baru boleh merokok. Sebenarnya larangan ada, tapi berkaitan dengan tempat, bukan perbuatan. Ada 7 tempat dilarang merokok. Salah satunya fasilitas layanan kesehatan. Jadi, di Indonesia rokok itu legal jika telah berumur 21 tahun dan menggunakannya bukan ditempat yang dilarang. Merokoklah kawan!
Seorang penyintas jantung koroner mengatakan kalau dia berhenti merokok bukan karena keinginan tapi karena keadaan. Keadaan dimana pembulu di jantungnya harus dipasangi ring yang membuat dia tersadar dan berhenti merokok. Sekarang baginya perokok adalah orang-orang lemah yang tidak mampu mengendalikan diri. Menurutnya, menasehati perokok ibarat berbicara dengan tembok, itu adalah pekerjaan yang sia-sia. Keadaan yang akan menyadarkannya.
Teman-teman pembaca sekalian, jika kalian belum bisa berhenti merokok, merokoklah dengan nikmat dan bijak. Berusahalah agar rokokmu tidak menggangu orang lain.
KENIKMATAN SEMU
Reviewed by nashihul
on
Februari 26, 2025
Rating: 5